Kamis, 24 November 2011

Botol Plastik Menggelitik

#Berani-Percaya Diri-Rendah Hati#

Ada sebuah kisah yang mengesankan serta menggelitik dari sebuah botol plastik. Kisah ini terjadi saat aku pergi bersama bude untuk sholat Isya bersama. Maktab bude hanya 100 meter dari maktabku, sehingga di Madinah ini sebisa mungkin menghabiskan waktu bersama bude. Pasalnya aku berangkat melalui Kota Tegal dan Bude telah berangkat lebih dahulu melalui Kota Semarang. Kejadiannya di sebuah kedai di dekat pelataran Masjid Nabawi. Usai sholat Isya aku dan bude membeli segelas teh panas. Udara malam itu dingin sekali. Kami menikmati teh yang disajikan di cangkir yang terbuat dari kertas sekali pakai. Usai menikmati teh hangat, bude akan membeli air panas pesanan teman sekamar beliau yang sedang tidak enak badan. Beliau ingin membuat teh hangat di Maktab yang di sana tidak disediakan fasilitas air panas. Bude telah menyiapkan botol plastik bekas tempat air mineral.
Berhubung aku tidak fasih berbahasa Arab, maka dengan sedikit bahasa Inggris dan isyarat aku mengatakan butuh air panas untuk dimasukkan di botol plastik itu. Para pedagang di Mekah maupun Madinah juga familiar dengan Bahasa Inggris. Kemudian penjual malah memberi kami air panas dalam gelas kertas. Namun bude menolak. Sekali lagi dengan isyarat kami menginginkan air panas dimasukan ke botol plastik itu. Mereka malah memberi kami  sebotol air mineral yang masih utuh. “Its free”, kata mereka.
“No, no”, kata bude.
“Hot water into this botol !”, kataku.
“Its not good for healty”, jawab mereka.
Akhirnya bude memutuskan tidak jadi membeli air panas itu. Sepanjang jalan menuju maktab bude, ada rasa kesal karena pemintaan tidak terpenuhi namun akhirnya kami tertawa terpingkal-pingkal. Kami menyadari bahwa ternyata kesadaran dan pengetahuan tentang kesehatan bagi masyarakat Arab Saudi sudah menyeluruh. Penjual makanan di pinggir jalan pun memperhatikan kesehatan dan kebersihan makanan yang disajikan. Mereka sudah mengetahui cara penggunaan kemasan plastik yang aman yakni tidak untuk tempat air panas atau makanan panas. Polimer pada plastik akan larut dan bercampur pada makanan atau minuman. Dampaknya polimer plastik tersebut tidak dapat diurai oleh tubuh manusia, mengendap dan akan menjadi pemicu sel-sel kanker.  Pantaslah ada perawat yang bekerja di Rumah Sakit Pusat di Jeddah mengatakan bahwa sangat jarang terjadi kasus penyakit kanker di Arab Saudi.
Kabarnya pemerintah Arab Saudi sangat ketat dalam pengawasan peredaran makanan mulai dari bahan-bahan utama, pendukung dan bahkan sampai pada pembungkusnya. Membeli makanan ringan di sana seperti keripik kentang benar-benar terjaga kesehatannya. Aku perhatikan komposisinya hanya kentang dan garam tidak ada MSG (Monosodium Glutamat) seperti pada kebanyakan makanan yang ada di Indonesia.
Jika dibandingkan dengan Indonesia, budaya hidup sehat sangat kurang. Betapa banyak orang yang dengan alasan praktis menggunakan pembungkus plastik untuk tempat makanan maupun minuman panas. Bakso dan teh panas. Kelihatannya praktis namun jika kebiasaan itu dilakukan terus menerus maka timbunan polimer plastik akan mengendap pada tubuh dan memicu pertumbuhan sel-sel kanker.  

**Tulisan ringan ini terbentik dari rasa keprihatinan akan maraknya penyakit kanker di Indonesia.
** Buat yang sedang sakit, semoga Allah mengangkat penyakit mereka, khususnya untuk dua orang temanku yang sedang diuji dengan tumor.
** Buat jamaah Haji yang sedang melakukan Arbain di Madinah, semoga sehat selalu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar