Rabu, 08 Mei 2013

Rebo, Penjahit Kaki Lima

#Berani-Percaya Diri-Rendah Hati#


Ada hal yang membuatku penasaran yakni sepanjang Jalan Parang Sarpo, Perumnas Tlogosari, Semarang banyak sekali penjahit yang menyediakan jasa permak baju. Mereka menggunakan sepeda yang didesain khusus untuk menempatkan mesin jahit, mereka mangkal di bawah pohon. Pemandangan ini unik menurutku. Sekian lama kurang lebih tiga tahun aku tidak mengunjungi perumahan ini.

Ini hasil wawancara yang berhasil aku rekam. Namanya Rebo, asli Purwodadi. Ia tinggal mengontrak rumah di perumnas ini. Usaha permak baju ini sudah digeluti kurang lebih 5 tahun. Modalnya hanya mesin jahit tua yang ia beli seharga Rp. 150.000. Keahlian menjahit pun dipelajarinya secara otodidak. Pendapatan bersih sehari Rp. 50.000 – 75.000, tidak membayar pegawai apalagi ongkos sewa tempat. Semuanya gratis di bawah pohon. Tarif permak per potong baju yang paling simple dikenai Rp. 7.000. Bila agak rumit bisa mencapai Rp. 10.000 – Rp. 15.000. Pendapatan ini jika berlangsung setiap hari bisa melebihi pendapatan seorang PNS golongan IIIA. Dasyatnya lagi, saat menjelang Hari raya Idul Fitri pendapatan bersih sehari bisa mencapai Rp. 300.000. Tentunya tarif permaknya pun  lebih tinggi daripada hari biasa.

Meskipun berpendapatan tinggi. Pak Rebo ini tidak merasa dirinya kaya atau berkecukupan. Rumah pun masih mengontrak. Sebenarnya ia juga telah memiliki rumah di kampung Purwodadi namun itu pun pemberian orang tua. Ukuran suksesnya pun sangat sederhana yakni asal dia dan  keluarga bisa makan dan berteduh itu sudah cukup. Saat aku tanya, adakah keinginan untuk memiliki toko sendiri suatu saat nanti. Ia jawab dengan tegas namun sambil bercanda bahwa seperti ini saja sudah cukup. Sebenarnya agak terkejut aku mendengarnya. Masa iya, orang tidak punya keinginan lebih untuk maju? Cukup dengan yang seperti itu? Padahal waktu cepat sekali berubah, saat ini telah masuk zaman qlobalisasi. Era persaingan ketat dengan warga Negara asing yang SDM maupun produknya telah meramaikan pasar di Indonesia. Mengikis perlahan keberadaan pasar tradisional dan memarginalkan penduduk asli.

Tidakkah ia mempunyai impian akan menjadi bos suatu saat nanti yang akan memiliki beberapa outlet permak baju ini? Ia tinggal mengawasi, dan tidak lagi bekerja keras dari pagi sampai sore seperti ini saat ia sudah tua nanti. “Ah, itu kan impianku, bukan impian bapak itu”, gumamku.
"Ya, sudah pak.Semoga lancar bisnisnya. Laris manis ya pak!” ujarku mengakhiri pembicaraan dengan beliau.

Semarang, 5 Juni 2012

1 komentar:

  1. Salam, Jual Peralatan Konveksi Harga Bersahabat buka di http://bit.ly/23JjITT Terimakasih. Salam Sukses

    BalasHapus