Rabu, 01 Agustus 2012

BERDAGANG, MENGAKAR BAK AKAR WANGI

#Berani-Percaya Diri-Rendah Hati#

Mengemis dan meminta belas kasihan orang lain, bisa menjadi sebuah alasan yang kuat bagi kaum papa apalagi umur sudah sangat lanjut. Namun, tidak dengan Suradiyanto (86 tahun), Keseharian beliau adalah berjualan akar wangi di emperan Supermarket ADA Siliwangi Semarang. Tubuhnya yang sudah sangat renta membuat tangannya bergetar saat memasukkan akar wangi ke tas plastik. Aku membelinya dengan harga seribu rupiah per ikat.
Tidak tanggung-tanggung akar wangi yang dijualnya sengaja didatangkan dari Yogyakarta. Dia sendiri yang membawanya dari Gunung Kidul ke Semarang. Pasalnya di sanalah ia berasal dan beranak-pinak. Dua minggu sekali Pak Di begitu sapaannya baru pulang ke Jogja.
Laki-laki yang sudah berjualan akar wangi selama setahun ini  mempunyai istri berumur 50 tahun. Mereka berasal dari Desa Parangan, Kecamatan Cemin, Gunung Kidul, Yogyakarta. Kakek dari tujuh cucu dan lima orang anak ini mengawali usahanya berawal modal Rp. 400.000. Setiap dua minggu sekali pulang membawa laba penjualan Rp. 500.000 – Rp. 600.000.
Saat ditanya apa alasan beliau di usia senja masih berjualan. Jawaban yang sangat sederhana meluncur dari mulut beliau, yakni mumpung masih sehat maka beliau bekerja menghidupi diri sendiri dan istri. Beliau tidak mau bergantung pada anak-anak. Sebelum berjualan akar wangi, beliau berjualan kerupuk di daerah Krobogan, Semarang.
Bila di Semarang, beliau menginap di Pasar Bulu yang saat ini sedang direnovasi total. Semangatnya yang luar biasa dalam berdagang membuatku semakin yakin dan kuat kemauan untuk belajar bergadang, berbisnis kalau perlu menjadi eksportir produk-produk alam yang melimpah ruah di Indonesia seperti akar wangi ini.
Diambil dari situs resmi Kabupaten Pekalongan, Akar wangi yang biasanya diekstrak untuk diambil minyaknya mendapat julukan “golden java vetiver oil” dalam dunia perdagangan internasional. Minyak ini memiliki aroma yang lembut dan halus karena mengandung senyawa kimia yang disebut vetiverol. Minyak akar wangi secara luas digunakan untuk pembuatan parfum, bahan kosmetik, pewangi sabun, dan obat-obatan, serta pembasmi, dan pencegah serangga. Indonesia memasok 60% kebutuhan minyak asiri dunia. Volume ekspor minyak akar wangi menduduki posisi kedua setelah minyak nilam. 
Akar wangi di Kabupaten Pekalongan selama ini telah dijadikan sebagai bahan dalam pembuatan kerajinan pintal/tenun akar wangi yang dikombinasikan dengan benang. Sentra kerajinan tenun akar wangi di Pekalongan dapat dijumpai di Pakumbulan Kecamatan Buaran. Sedangkan potensi untuk mengusahakan sendiri tanaman akar wangi agar dapat diolah menjadi kerajinan tenun/pintal maupun menjadi minyak akar wangi masih belum umum dibudidayakan oleh masyarakat. 
Sedangkan yang dijual Pak Di hanyalah akar wangi yang sudah kering dan aneka kerajinan tangan berbahan baku akar wangi yang digunakan untuk pengharum sekaligus hiasan ruangan. Akar wangi ini dibentuk beraneka macam seperti gajah, kura-kura, kuda, dll.

http://www.pekalongankab.go.id/fasilitas-web/artikel/136-artikel-pertanian/1479-potensi-ekonomi-akar-wangi-dan-julukannya-sebagai-qjava-vetiver-oilq-.html

Wawancara 1 Februari 2012
Rilis 1 Agustus 2012/12 Ramadhan 1433H



Tidak ada komentar:

Posting Komentar