Selasa, 27 Maret 2012

Fantasi Mbah Kakung

#Berani-Percaya Diri-Rendah Hati#

Apa yang ada di benakmu mengenai sosok seorang kakek? Menemanimu saat bermain dan belajar? Menceritakan dongeng atau kisah perjuangan? Diskusi mengenai makna hidup? Hmm, mungkin idealnya seperti itu. Namun, aku belum pernah merasakan hal yang demikian. Pasalnya ayah dari ibuku telah meninggal sebelum ibuku menikah. Ayah bapakku meninggal di saat aku masih kecil. Setidaknya aku pernah melihat sosok kakek dan merasakan mempunyai kakek. Tidak ada kenangan indah bercengkrama bersama kakek, hanya sebatas bertemu, salam dan mencium tangannya kala bersilaturahim ke rumah beliau. Maklum, aku cucu ke sekian dari bapakku yang anak kelima dari sembilan bersaudara. Kata bapak, kakekku adalah seorang veteran perang. Sebenarnya aku ingin mendengar sendiri seperti apakah kisah perjuangan melawan penjajah dari mulut kakekku sendiri, namun apa daya kakekku sudah sangat tua dan sakit-sakitan. Kami sekeluarga memanggil beliau dengan sebutan Mbah Kakung.
Baru-baru ini, aku menemukan sosok Mbah Kakung yang seperti di dalam benakku. Sosok kakek yang menceritakan kisah hidupnya, mengajariku tentang makna hidup dan arti sebuah perjuangan. Bahkan beliau menginspirasiku untuk selalu menuliskan setiap peristiwa yang dialami. Ada yang bisa menebak? Ya betul! Beliau adalah SN. Ratmana. Seorang saksi sejarah sekaligus penulis yang produktif meskipun di masa tua.
Menjadi penulis besar yang tulisannya dibaca banyak orang, menginspirasi dan mampu mengubah dunia merupakan cita-cita bagi sebagian orang. Termasuk diriku. Namun untuk menjadi seorang penulis yang idealis itu, tentu membutuhkan banyak jam terbang. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh latihan berulang, terus menerus, setiap hari harus menulis.
Namun, ada rasa yang tidak kalah menyenangkan ketika membantu seorang Penulis besar yang karyanya diakui secara nasional, sastrawan era 60-an yang saat ini berumur 76 tahun. Beliau adalah SN Ratmana. Kebetulan rumah beliau masih satu kelurahan dengan tempat tinggalku. Beliau juga menjadi salah satu Pembina di organisasi Kepenulisan di Tegal. Sebuah wujud bakti dan penghargaan generasi muda atas karya-karya beliau di masa lampau.
Tren industri penerbitan saat ini tentu berbeda dengan tren penerbitan di kala beliau masih muda. Tren saat ini seputar tulisan catatan perjalanan seperti karya-karya Triniti, percintaan religi yang digaungi Ayat-ayat Cinta karya Habiburahman El Shirazi dan novel motivasi yang diawali oleh Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi. Tulisan beliau yang terakhir yang dirampungkan tahun 2009 harus kandas gagal terbit pada salah satu penerbit besar. Harapan untuk menerbitkan buku di kala umur beliau sudah tidak muda lagi, pandangan pun sudah mulai kabur apalagi ditambah ingatan yang mulai memudar tentu menjadi sebuah kebahagiaan yang tak terkira rasanya.  Mencontoh pola penerbitan Indie yang telah dilakukan FLP Tegal lewat Kumpulan Cerpen “Akulah Pencuri Itu”, SN. Ratmana berminat melakukan hal yang sama pada naskahnya yang berjudul “Lolong, Lelaki Lansia”. Naskah ini terdiri dari sebuah Novelet yang berlatar belakang di sebuah desa di Kabupaten Pekalongan bernama desa Lolong pada era 1940-an dan sepuluh cerpen yang berkisah tentang potret kehidupan seorang lelaki tua dengan segala suka dukanya. 
Sosok Mbah Kakung yang satu ini begitu menginspirasiku untuk terus mencatat setiap peristiwa yang dialami. Bisa jadi suatu saat catatan peristiwa itu akan bermanfaat di masa depan dan menjadi sebuah pelajaran yang berharga bagi anak cucu. Peristiwa yang dituliskan tentu akan lebih abadi daripada hanya sekedar diceritakan saja. Maka, menemani beliau berkunjung menemuni Kepala Dinas Pendidikan Kota Tegal yang mantan murid beliau, bersama beberapa teman juga menghadiri audiensi Pemerintah Kota Tegal yang diwakili oleh Wakil Walikota Tegal, Habib Ali Zaenal pun aku lakukan dengan senang hati. Meski, di tengah-tengah kesibukan kami belajar dan bekerja. Cara belajar yang paling baik kepada seorang penulis besar ini adalah dengan mengikuti pola hidup beliau. Energi dan semangat juang beliau secara tidak langsung akan tertransfer menjalar pada pikiran dan hatiku.
Semoga suatu saat nanti aku dapat menjadi penulis yang mencerahkan yang menuliskan setiap peristiwa dengan cara yang khas.  

Semarang, 27 Maret 2012
Kado spesial untuk Milad Mbah SN. Ratmana ke-76 (6 Maret 2012) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar