Minggu, 25 September 2011

Tegal - Pekan Baru (Kunjungan Kedua)

#Berani-Percaya Diri-Rendah Hati#
Kunjungan yang kedua kami agendakan tanggal 18 – 21 September 2011.
Tampak di stasiun Besar Kota Tegal puluhan orang berbaris mengantri membeli tiket KA kelas ekonomi Tegal Arum. Kami sekeluarga naik Cirebon Express ke Jakarta.
Alhamdulillah akhirnya moment ini terjadi. Kami pergi berempat. Semoga perjalanan ini membewa hikmah dan pelajaran agar  kami makin akrab dan kompak.
Sepanjang jalan kering kerontang.
11.00 – 12.00 menunggu jemputan dari Pakde (kakak dari Ibu)
12.15 sampai di Sunter(Komplek Perumahan Angakatan Laut) masuk kawasan Jakarta Utara
12.15 makan siang dan ngobrol
13.30 tidur siang / memulihkan tenaga
15.00 mandi
15.30 – 16.30 perjalanan dari Sunter ke Bandara
16.30 – 17.00 check in di bandara, maskapai Lion Air
17.00 – 18.30 menunggu keberangkatan
18.30 – 19.00 persiapan di dalam pesawat
19.00 lepas landas
20.43 sampai di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II
Pemandangan lampu-lampu sangat indah, telaingaku sakit saat proses landing.
Naik taksi sampai ke Jln. Bindanak, Kelurahan Tangkerang, komplek Rumah Dinas Kanwil KPPN Pekan Baru.
Makan malam, istirahat.

19 September 2011
13.00 naik Taksi menuju ke Rumah Makan “Koki Sunda” di Jln. Sudirman, Pekan Baru. Ongkos Taksi Rp. 20.000. Menu terjangkau Ikan Patin Rp. 34.000 dapat dua ekor. Gratis lalapan dan rujak.
14.30 sampai di Mall SKA. Mall terbesar di Pekan Baru.  Dimana-mana saat ini penuh dengan kehidupan hedonis. Riau yang merupakan Kota yang menerapkan syariah Islam dalam kehidupan sehari-hari terbukti dengan Bangunan Masijd yang megah, kota yang bersih dan kayak arena mempunyai tambang minyak dan kelapa sawit. Namun menjadi rusak perlahan-lahan dengan hadirnya Mall-mall dan hotel-hotel berskala internasional. Tolok ukur atau standar internasional sebuah hotel ada adanya bar, anggur.  Kemudian para pekerja di mall diharuskan memakai seragam yang terdiri dari blus dan rok mini. Mungkin ini yang mereka maksud dengan tolok ukur sebuah profesionalisme kerja.  Tampak sekali wajah-wajah gadis desa yang lugu namun tampak aneh dengan dandanan menor dan pakaian ketat serta rok mini. Miris.
Saat menunggu jemputan aku membeli Sate Padang. Daging satu porsi delapan tusuk Rp. 10.000. Ayam satu porsi 8 tusuk Rp. 7000 dengan irisan kupat dicampur bumbu rempah-rempah  yang kental.

Tampak bus Trans Metro Pekan Baru melintas.
17.30 Taksi jemputan datang. Kami jalan-jalan dengan menggunakan taksi melewati masjid Namirah, masjid kecil yang desain eksteriornya megah, dibuat mirip dengan masjid nabawi. Letaknya di dekat Malll SKA.
Kemudian kami berkeliling ke arah Taman Budaya dan Masjid Agung An Nur Pekan Baru
Di depannya ada RSUD Arifin Achmad Kalingjuang
Di komplek Kampus Universitas Riau yakni di Jalan Ronggowarsito di sepanjang jalannya pada sore hari banyak pedagang makanan yang berjualan. Mereka menggelar kursi-kursi pendek. Kalau di Jawa biasanya ala lesehan. Ada aneka jus, roti bakar, dll.
Berhubung sudah memasuki waktu sholat maghrib, kami segera pulang kandang. Sholat jamaah di rumah saja.
Malam harinya sekitar 20.30 ambil laundry. Pemilik laundry asli orang Cepu. Serasa ga di perantauan nih. Berikutnya  mampir di warung makan penyet khas Semarang. Padahal kalau di Semarang tidak ada penyet seperti itu. Bumbunya modifikasi ala Melayu, pedas. Bukan bumbu kecap seperti penyet yang ada di Semarang. Yang membuat ketagihan adalah sambal trasinya. Eunak syekali. Tidak ada yang menandingi. Perasaan di Jawa belum pernah aku merasakan sambal trasi seenak itu. Trasinya dari Jawa atau Riau? Namun larisnya minta ampun rumah makan itu. Pemilik rumah makan asli Singosari, Peleburan Semarang.
Ada kejadian yang unik saat menunggu pesanan ayam penyet matang. Ada dua orang pengemis seorang anak kecil dan seorang lelaki buta. Setelah aku amati ternyata mereka berdua adalah pengemis yang ada di lampu lalu lintas di daerah Mall SKA, namun dengan pakaian yang berbeda. Sudah membersihkan diri mungkin.
Aku tidak memberikan uang. Aku pikir hal itu akan makin membuat mereka terlena dengan meminta-minta. Resiko terburuknya adalah mereka menjadikan mengemis menjadi sebuah profesi. Asik saja meminta, tanpa bekerja, tanpa berlelah-lelah atau memutar otak, mereka sudah mendapatkan uang.
Berikutnya ada seorang pengemis lagi. Kali ini anak kecil berumur  kurang lebih sembilan tahun dengan penuh percaya diri meminta uang Rp. 5000,00. Katanya ia belum makan dari pagi. Aku amati saat ia memelas ke beberapa pengunjung, semuanya menolak. Bahkan terlihat bercakap-cakap dengan anak itu. Mungkin menasehati anak itu. Bagaimana tidak. Postur anak itu terlihat sehat, tidak lesu layaknya orang yang belum makan seharian. Pintar sekali anak itu berbohong. Heran aku dibutnya, dia begitu percaya diri meminta-minta!  Ya, seharusnya anak itu tidak mengemis. Kalaupun ia benar-benar butuh uang, sebaiknya bekerja entah memcuci piring, mengantarkan barang atau menjualkan barang milik orang lain.
Pemandangan selanjutnya sedikit kontras. Ada anak kecil yang berjualan koran. Nah, ini yang patut dicontoh. Allah menghalalkan perdagangan dan mengharamkan Riba. So, jualan itu halal. Jadi bakul itu halal. Tak perlu malu apalagi gengsi.


 Berikutnya aku dan Bapak menyusuri jalan ke arah Jln. Sudirman mencari oleh-oleh untuk tetangga dan kerabat di Tegal. Eh, ternyata tutup.
Berikutnya aku dan Bapak membeli es cincau hijau yang dicampu air madu dan air jeruk nipis. Ini adalah jamu panas dalam.
Yang menarik saat melintasi kota Pekan Baru adalah desain bangunannya. Gedung-gedung pemerintah hampir seluruhnya mempunyai desain eksterior rumah Melayu dengan aksen ukiran kayu di bawah genting yang sangat khas.
20 September 2011
Aku dan Bapak sholat Subuh di masjid setempat namanya masjid Roudhotul Amilin terletak di Jln. Tangkerang Amilin.
Kemudian kami aktifitas saja di rumah. Sampai akhirnya 10.50 aku pergi ke rumah makan Bu Bejo. Kepanjangan dari  Betawi – Jowo. Terdapat masakan Betawi dan Jawa.
Saat menunggu antrian, mata ini melihat seorang lelaki tua yang berjualan sapu lidi, sapu pembersih sarang laba-laba dan beberapa anyaman bamboo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar